Ah, secara fisik saja kalian berbeda, bagaimana bisa disamakan? Bahkan sampai titik ini pun aku masih belum menemukan satu kesamaan diantara kalian. Oh aku menemukannya, kalian sejenis, sama-sama penunjuk arah. Yah, sekiranya hanya itu. Lalu apa lagi? Huh, membuat kepalaku berat saja memikirkan kalian. Bagaimana dengan aku yang berada ditengah-tengah kalian? Mana ku tahu harus kemana, kalian membingungkan, dan tidak memungkinkan juga aku harus terus menetap ditengah, mengambang tak berdaya. Bagaimana jika aku memilihmu, Utara? Abaikan saja sang Selatan yang sudah menjadi masa laluku. Bisakah kamu menjadi pedomanku diperjalanan selanjutnya? Ah, tapi kalian berbeda, sekali lagi. Sulit bagiku menyesuaikan diri dengan si Cuek Utara setelah sebelumnya dengan si Bawel Selatan. Aku begitu terbiasa dengan Selatan, hingga akhirnya arahnya menyesatkan dan aku harus terhempas. Bagaimana Utara? Bisakah aku berjalan di arahmu? Oke, mari kita coba. Lagipula aku sudah lelah diambang Selatan.
SEMAKIN DEWASA SEMAKIN TAHU MANA YANG HARUS DI KEEP DAN MANA YANG HARUS DIOMONGIN. KADANG LEBIH BAIK MENYIMPAN SEMUANYA SENDIRI DARIPADA HARUS MENELAN SEBAL KARENA TAHU MEREKA HANYA "K E P O" BUKAN "P E D U L I"
Bagaimana jika kita mengakhiri semuanya?
Bagaimana jika kita menyudahi apa yang ada diantara kita?
Bagaimana jika saling berbalik arah?
Lalu, saling melepaskan genggaman?
Setelah itu kita akan berdiri pada kaki kita sendiri-sendiri?
Bagaimana?
Kenapa masih saja terus menerus ada perang dingin diantara kita?
Kenapa tatapan kita masih saja saling melempar ketidaksukaan?
Sejujurnya aku lelah bung dengan drama kita
Bagus jika drama romantis seperti yang sering aku tonton
Tapi drama kita penuh dengan drama yang menyebalkan
Kamu tahu itu kan?
Aku capek.
Mari sama-sama melupakan, sama-sama melangkah pergi, sama-sama bersikap tidak pernah mengenal. Bukankah itu lebih baik?
Bagaimana jika kita menyudahi apa yang ada diantara kita?
Bagaimana jika saling berbalik arah?
Lalu, saling melepaskan genggaman?
Setelah itu kita akan berdiri pada kaki kita sendiri-sendiri?
Bagaimana?
Kenapa masih saja terus menerus ada perang dingin diantara kita?
Kenapa tatapan kita masih saja saling melempar ketidaksukaan?
Sejujurnya aku lelah bung dengan drama kita
Bagus jika drama romantis seperti yang sering aku tonton
Tapi drama kita penuh dengan drama yang menyebalkan
Kamu tahu itu kan?
Aku capek.
Mari sama-sama melupakan, sama-sama melangkah pergi, sama-sama bersikap tidak pernah mengenal. Bukankah itu lebih baik?
Sialnya, rasaku masih sama seperti pertama kita dekat. Dan entah akan sampai kapan. Muak sebenernya, tapi gimana lagi? Ketika beberapa orang mencoba membuka hatiku, tapi tidak berhasil. Sedangkan kamunya sudah bahagia tanpa aku. Lucu.
"Aku mau putus."
"Kenapa? Apa salahku? Karena mengkhawatirkanmu? Jika iya, maafkan aku. Tolong, jangan."
"Kenapa? Tidak lelahkah kamu menangisiku hampir satu bulan?"
"Lelah. Tapi apa arti lelah jika aku masih sangat menyayangimu?", dia terdiam tak bergeming, tapi matanya berair, apakah itu yang dinamakan mata berkaca-kaca? Aku tidak tahu, dan tangannya menggenggam erat seperti menahan sesuatu. Kamu kenapa? Aku benar-benar tidak mengerti.
"Aku sudah tidak mencintaimu.", katanya setelah beberapa saat dengan posisi mematung tanpa menatapku sedikitpun. Bahkan tanganku yang mencoba menggenggamnya diacuhkan. Aku menyerah, aku berlari menjauh. Sakit
Ah, itu kisah menyakitkan dari suatu novel yang pernah ku baca, bahkan pada novel itu disebutkan sang gadis yang berlari menjauh tersebut masih mencintai lelaki itu, padahal lelaki itu sudah membuatnya sakit berkali-kali, mengacuhkannya didepan banyak orang bahkan menganggapya tidak ada. Sempat gadis itu bertanya haruskah dia menunggu? Atau akankah dia pergi? Menunggu? Kegiatan menyakitkan macam apa itu? Bagus jika pada akhirnya akan mengembalikan si pria seperti pada kisah Ada Apa Dengan Cinta? tapi jika hanya berakhir mengenaskan, apa guna? Pergi? Makanan apa lagi itu? Sulit. Dan pada akhir novel tersebut si gadis masih bertanya-tanya tentang apa yang harus dilakukannya dan tentang apa maksud mata dan tangan si pria waktu itu. Lucu, misteri macam apa itu.
"Kenapa? Apa salahku? Karena mengkhawatirkanmu? Jika iya, maafkan aku. Tolong, jangan."
"Kenapa? Tidak lelahkah kamu menangisiku hampir satu bulan?"
"Lelah. Tapi apa arti lelah jika aku masih sangat menyayangimu?", dia terdiam tak bergeming, tapi matanya berair, apakah itu yang dinamakan mata berkaca-kaca? Aku tidak tahu, dan tangannya menggenggam erat seperti menahan sesuatu. Kamu kenapa? Aku benar-benar tidak mengerti.
"Aku sudah tidak mencintaimu.", katanya setelah beberapa saat dengan posisi mematung tanpa menatapku sedikitpun. Bahkan tanganku yang mencoba menggenggamnya diacuhkan. Aku menyerah, aku berlari menjauh. Sakit
Ah, itu kisah menyakitkan dari suatu novel yang pernah ku baca, bahkan pada novel itu disebutkan sang gadis yang berlari menjauh tersebut masih mencintai lelaki itu, padahal lelaki itu sudah membuatnya sakit berkali-kali, mengacuhkannya didepan banyak orang bahkan menganggapya tidak ada. Sempat gadis itu bertanya haruskah dia menunggu? Atau akankah dia pergi? Menunggu? Kegiatan menyakitkan macam apa itu? Bagus jika pada akhirnya akan mengembalikan si pria seperti pada kisah Ada Apa Dengan Cinta? tapi jika hanya berakhir mengenaskan, apa guna? Pergi? Makanan apa lagi itu? Sulit. Dan pada akhir novel tersebut si gadis masih bertanya-tanya tentang apa yang harus dilakukannya dan tentang apa maksud mata dan tangan si pria waktu itu. Lucu, misteri macam apa itu.
"Kenapa menatapku seperti itu? Ada yang salahkah dengan tawaku? Huh? Bukankah tawaku biasa saja? O! Atau ada sesuatu di gigiku? Malunya", kataku sambil mencari kaca di tasku. "Nope, aku suka melihatmu tertawa apalagi alasan tawamu adalah aku." kata seseorang dengan senyumnya.
Pagi memanggil kota yang lelap ini
Dia bertanya bagaimana hari mu
Dia bertanya bagaimana hari mu
(hari ku selalu baik, apalagi dengan kamu disampingku, lalu bagaimana harimu? Sama kah denganku yang selalu merinduimu?)
Apa kabar mimpi-mimpi mu
Apa kabar mimpi-mimpi mu
(Ah,mimpiku masih sama, menjadi seorang yang berhasil kedepannya, dengan berbagai perencanaanku,doakan saja akan terlaksana dengan mulus, lalu bagaimana dengan kamu? Masih sama kah mimpimu? Jikapun beda, semoga berhasil ya.)
Apa kau tinggal begitu saja
Apa kau tinggal begitu saja
(Aku tau kamu bukan orang yang meninggalkan mimpimu terbengkalai begitu saja, aku tau kamu akan mengejarnya sekuat tenagamu.)
Apa kabar angan-angan mu
Apa kabar angan-angan mu
(Anganmu masih sama bukan? Menjadi seorang yang dicintai & berguna untuk orang disekitarmu, termasukkah aku dalam daftarmu?)
Hari ini
[Jog]Jakarta ramai
Hati ku sepi
Hari ini
[Jog]Jakarta ramai
Hati ku sepi
(iya, [Jog]Jakarta selalu ramai, entah dengan hiruk pikuk keseharian atau dengan para wisatawan, tapi pedulikan kamu jika hatiku sepi? Mlompong.)
Jangan kau tanya
Mengapa sedih
Jangan kau tanya
Mengapa sedih
(HAHAHA, padahal kamu tidak bertanya lagi, peduli pun sudah tidak, iyakan?)
Ku tak tahu ku tak tahu
Apa arti resah ini
Ku tak tahu ku tak tahu
Apa arti resah ini
(Iya, aku juga gatau kenapa aku seresah ini, entahlah, kalut.)
Entah apa yang ku mau
Penuh tanya dalam diri
Entah apa yang ku mau
Penuh tanya dalam diri
(dan pertanyaan itu selalu tentang kamu)
[Jog]Jakarta ramai
Senja menyambut kota yang lelah ini
Dan dia bertanya bagaimana hari mu
[Jog]Jakarta ramai
Senja menyambut kota yang lelah ini
Dan dia bertanya bagaimana hari mu
(masih sama, merindukan seorang yang telah pergi, kamu?)
Apa kata hati kecilmu
Apa kata hati kecilmu
(hati kecilku selalu ingin kembali kepadamu, tapi aku tau hati kecilmu selalu ingin pergi)
Mengapa tak kau ikuti saja
Mengapa tak kau ikuti saja
(bagaimana bisa? bukankah hanya akan menambah sakit?)
Apa isi dari benak mu
Apa isi dari benak mu
(bolehkah waktu terulang?)
Hari ini
[Jog]Jakarta ramai
Hatiku sepi
Jangan kau tanya
Mengapa sedih
Aku tak tahu aku tak tahu
Apa arti resah ini
Entah apa yang ku mau
Penuh tanya dalam diri
[Jog]Jakarta ramai ([Jog]Jakarta ramai hati ku sepi)
Langitnya abu hati ku biru
Hari ini
[Jog]Jakarta ramai
Hatiku sepi
Jangan kau tanya
Mengapa sedih
Aku tak tahu aku tak tahu
Apa arti resah ini
Entah apa yang ku mau
Penuh tanya dalam diri
[Jog]Jakarta ramai ([Jog]Jakarta ramai hati ku sepi)
Langitnya abu hati ku biru
(langit siap menumpahkan malam, aku siap menumpahkan tangis.)
Banyak hal baru tapi ku lesu
Banyak hal baru tapi ku lesu
(Iya, karena yang aku mau hal baru adalah denganmu lagi.)
Jelaskanlah jelaskanlah
Apa arti resah ini
Entah apa yang ku mau
Penuh tanya dalam diri
[Jog]Jakarta ramai
[Jog]Jakarta ramai
Jelaskanlah jelaskanlah
Apa arti resah ini
Entah apa yang ku mau
Penuh tanya dalam diri
[Jog]Jakarta ramai
[Jog]Jakarta ramai
NB : wkwk, ini cuma buat numpahin galau doang kok:")
Ah, aku masih tidak mengerti, kenapa ada orang yang membuatmu patah padahal aku mencoba sekuat tenaga untuk tumbuh dihidupmu. Ah, aku juga masih tidak mengerti, kenapa orang menganggap kamu mati bahkan untuk hidup dihatimu saja aku harus bertaruh sakit. Dan ya, aku juga tidak mengerti kenapa aku benar-benar sakit ketika harus melihatmu tapi seandainya kau tau, aku benar-benar rindu, tapi ini memang ulahku yang menyudahi semuanya, karena aku tau percuma berjuang untuk tumbuh jika tanah yang kau miliki sudah tertanam, atau percuma untuk hidup dihatimu jika hatimu saja sudah sesak tak berruang. Tapi hal yang membuatku lebih tak mengerti adalah kenapa sebegitu sakitnya? Bukan hanya sekali ini aku kehilangan, berkali-kali, BERKALI-KALI! dan kamu berhasil menjadi yang paling menyebalkan. Apa? Mau bertanding dengan seorang yang pernah mengisi hatiku sebelummu? Sama sepertimu! Dia meninggalkanku begitu saja, namun bedanya dia lebih sweet, tidak seperti kamu, namun dengan mudahnya aku melupakannya. Siapa lagi? Seseorang yang pernah ku cintai sepenuh hati lalu kita berpisah dan ku dengar kabar dia dengan temanku? Itu memang sakit, banget! Tapi tidak pernah semenyebalkan ini ketika harus menatapnya, mungkin dulu aku menangis jika menatap seseorang itu,tapi kamu? Tidak, kamu tidak pernah membuatku menangis, namun rasa sakit dan rindu yang harus ku tahan agar aku tidak terlihat lemah untuk kesekian kalinya adalah hal yang benar-benar menyiksa. Apa yang istimewa dari kamu hingga membuatku tergila-gila? Ugh, aku membencimu
Aku akan menantimu,
Seperti hujan yang menanti petir
Aku akan menantimu,
Seperti api menanti padam
Aku akan menantimu,
Seperti gurun menanti fatamorgana
Aku akan menantimu,
Seperti matahari menanti bintang
Aku akan menantimu,
Selayaknya aku menantimu
Menanti bukan lagi tentang waktu,
Berganti tentang aku dan kamu
Beralih dengan pengorbanan
Tak jarang timbul luka
Aku akan menantimu.
Seperti hujan yang menanti petir
Aku akan menantimu,
Seperti api menanti padam
Aku akan menantimu,
Seperti gurun menanti fatamorgana
Aku akan menantimu,
Seperti matahari menanti bintang
Aku akan menantimu,
Selayaknya aku menantimu
Menanti bukan lagi tentang waktu,
Berganti tentang aku dan kamu
Beralih dengan pengorbanan
Tak jarang timbul luka
Aku akan menantimu.
Kita bertemu hanya kebetulan. Aku tau kamu badboy. Tapi jika memang kita dipertemukan untuk aku yang menembus dosa-dosaku di masa lalu dan untuk memperbaikimu, aku terima.
Dan aku masih mengenalmu sebagai orang yang ku cintai atau orang yang selalu membahagiakanku, bukan sebagai orang yang menaruh bara api di tanganku
Sang rembulan mulai mencumbui bintang,
Langit malam mulai menghitam,
Lampu-lampu mulai berkelipan,
dan Kamu mulai berkeliaran.
Kertas lusuh berisi tulisanmu membuatku rindu,
Akan tawa yang pernah ada,
Akan senyum yang pernah membahagiakan,
Akan pelukan yang menenagkan.
Langit malam mulai menghitam,
Lampu-lampu mulai berkelipan,
dan Kamu mulai berkeliaran.
Kertas lusuh berisi tulisanmu membuatku rindu,
Akan tawa yang pernah ada,
Akan senyum yang pernah membahagiakan,
Akan pelukan yang menenagkan.
Ia terus berputar,
Tak kenal apa itu waktu,
Tak kenal siapa itu kamu,
Tak kenal dimana berada,
yang ia tahu hanya berputar,
entah ke depan atau ke belakang,
Berputar menampilkan secercah kehidupan
Tak kenal apa itu waktu,
Tak kenal siapa itu kamu,
Tak kenal dimana berada,
yang ia tahu hanya berputar,
entah ke depan atau ke belakang,
Berputar menampilkan secercah kehidupan
Hujan kembali turun di sore ini,
Mataku menatap setiap air yang jatuh pilu,
Aku yang hancur atau memang dari awal aku tidak pernah berdiri tegak?
Aku sudah mulai membangun pondasi istanaku,
Namun kau tahu? Itu sulit,
Apalagi ketika rindu menerbangkan semen-semen perekat betonku,
Ditambah kenangan yang membakar bayangan arsitektur istanaku,
Aku tersungkur dan memeluk kakiku erat,
Aku rindu K-I-T-A.
Mataku menatap setiap air yang jatuh pilu,
Aku yang hancur atau memang dari awal aku tidak pernah berdiri tegak?
Aku sudah mulai membangun pondasi istanaku,
Namun kau tahu? Itu sulit,
Apalagi ketika rindu menerbangkan semen-semen perekat betonku,
Ditambah kenangan yang membakar bayangan arsitektur istanaku,
Aku tersungkur dan memeluk kakiku erat,
Aku rindu K-I-T-A.