Enyah atau Renyah?
"Kenapa menatapku seperti itu? Ada yang salahkah dengan tawaku? Huh? Bukankah tawaku biasa saja? O! Atau ada sesuatu di gigiku? Malunya", kataku sambil mencari kaca di tasku. "Nope, aku suka melihatmu tertawa apalagi alasan tawamu adalah aku." kata seseorang dengan senyumnya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Ada yang salahkah dengan tawaku? Huh? Bukankah tawaku biasa saja? O! Atau ada sesuatu di gigiku? Malunya.", pertanyaan itu terus berdengung di otakku, tidak, tidak akan adalagi jawaban seperti sebelumnya, yang ada hanya senyum pait. Iya, benar, sekarang benar-benar ada yang salah dari tawaku. Apa? Kau mendengarku tertawa keras? Ya, aku tertawa keras tapi yakinlah ada sesuatu di dalam tubuhku yang bergetar hebat menahan sakit yang entah aku sendiri tidak tau apa itu. Renyah ya jika didengar? Bahkan lawakan tidak mutu saja bisa membuatku terbahak padahal biasanya hanya lawakan tertentu saja yang bisa membuat rahangku sakit atau tingkah konyol seseorang, lupakan, itu sudah enyah. Jangan tanya, aku juga tidak mengerti apa yang terjadi didiriku, ketika aku merasa bahagia tapi ada sesuatu yang kosong didiriku, entah apa itu.
0 komentar