Kita bertemu hanya kebetulan. Aku tau kamu badboy. Tapi jika memang kita dipertemukan untuk aku yang menembus dosa-dosaku di masa lalu dan untuk memperbaikimu, aku terima.
Dan aku masih mengenalmu sebagai orang yang ku cintai atau orang yang selalu membahagiakanku, bukan sebagai orang yang menaruh bara api di tanganku
Sang rembulan mulai mencumbui bintang,
Langit malam mulai menghitam,
Lampu-lampu mulai berkelipan,
dan Kamu mulai berkeliaran.
Kertas lusuh berisi tulisanmu membuatku rindu,
Akan tawa yang pernah ada,
Akan senyum yang pernah membahagiakan,
Akan pelukan yang menenagkan.
Langit malam mulai menghitam,
Lampu-lampu mulai berkelipan,
dan Kamu mulai berkeliaran.
Kertas lusuh berisi tulisanmu membuatku rindu,
Akan tawa yang pernah ada,
Akan senyum yang pernah membahagiakan,
Akan pelukan yang menenagkan.
Ia terus berputar,
Tak kenal apa itu waktu,
Tak kenal siapa itu kamu,
Tak kenal dimana berada,
yang ia tahu hanya berputar,
entah ke depan atau ke belakang,
Berputar menampilkan secercah kehidupan
Tak kenal apa itu waktu,
Tak kenal siapa itu kamu,
Tak kenal dimana berada,
yang ia tahu hanya berputar,
entah ke depan atau ke belakang,
Berputar menampilkan secercah kehidupan
Hujan kembali turun di sore ini,
Mataku menatap setiap air yang jatuh pilu,
Aku yang hancur atau memang dari awal aku tidak pernah berdiri tegak?
Aku sudah mulai membangun pondasi istanaku,
Namun kau tahu? Itu sulit,
Apalagi ketika rindu menerbangkan semen-semen perekat betonku,
Ditambah kenangan yang membakar bayangan arsitektur istanaku,
Aku tersungkur dan memeluk kakiku erat,
Aku rindu K-I-T-A.
Mataku menatap setiap air yang jatuh pilu,
Aku yang hancur atau memang dari awal aku tidak pernah berdiri tegak?
Aku sudah mulai membangun pondasi istanaku,
Namun kau tahu? Itu sulit,
Apalagi ketika rindu menerbangkan semen-semen perekat betonku,
Ditambah kenangan yang membakar bayangan arsitektur istanaku,
Aku tersungkur dan memeluk kakiku erat,
Aku rindu K-I-T-A.