Katamu,
Mencintai itu sederhana
Ketika melihat tawa sang pujaan
Sapaan hangat penyemangat pagi
Ucapan penyenyak malam
Atau menyeduh kopi di coffee shop favorite
Tapi mencintai tidak seindah itu, teman
Lihat saja aku yang mencintaimu dalam kata yang terbungkam
Kamu pikir, mendengar ocehanmu tentang gadis pujaanmu itu menyenangkan? Tidak!
Sakit, tapi apa yang bisa ku lakukan? Tidak ada
Kadang aku berpikir,
Sampai kapan aku akan seperti ini?
Akankah sampai aku tak berdaya dan hanya menatapmu nanar
Atau sampai raga tak lagi tergerak
Kadang aku berpikir,
Haruskan aku melangkah pergi atau tetap meyakini kata orang tentang penantian?
Melangkah pergi tak semudah itu, apalagi dari kamu yang sudah menetap
Meyakini kata orang tentang penantian? Hah!
Rintik hujan terdengar dari dalam ruangan
Semua orang bergegas keluar, tersenyum
Namun bergegas mengemasi barang-barang mereka
Aku hanya menetap di teras rumah, menatap air yang jatuh tanpa aduh
Haha, shit, pikiranku berkeliaran
Senyum menghiasi wajahku sekilas sebelum akhirnya terhapus oleh setetes air mata
Setahun yang lalu,
Kita bercengkarama, tertawa lepas
Peduli apa dengan tatapan orang disekitar karena bising kita?
Kita asik dengan dunia yang berasa milik kita berdua
Ditemani dentuman syahdu air hujan yang jatuh di atap tempat kita berteduh
Katamu, "Dingin? Mana sini tanganmu"
Dan aku suka saat kamu melakukan itu
Mungkin aku mencintai suasana hujan kala itu
Bahkan aku mungkin tidak ingin hujan bergegas reda
Tapi aku lupa,
Masih ada Dzat yang mampu membolak-balikkan hati, dan suasana
Saat ini apa yang bisa ku lakukan?
Memperhatikan kamu yang sedang berlarian ke mobil bersama seseorangmu?
Ini menyakitkan, mana mungkin kamu secepat itu melupakan semuanya?
Dan sedetik kemudian air hujan sudah bercampur dengan air mataku
Selucu itu kah hidup?
Semua orang bergegas keluar, tersenyum
Namun bergegas mengemasi barang-barang mereka
Aku hanya menetap di teras rumah, menatap air yang jatuh tanpa aduh
Haha, shit, pikiranku berkeliaran
Senyum menghiasi wajahku sekilas sebelum akhirnya terhapus oleh setetes air mata
Setahun yang lalu,
Kita bercengkarama, tertawa lepas
Peduli apa dengan tatapan orang disekitar karena bising kita?
Kita asik dengan dunia yang berasa milik kita berdua
Ditemani dentuman syahdu air hujan yang jatuh di atap tempat kita berteduh
Katamu, "Dingin? Mana sini tanganmu"
Dan aku suka saat kamu melakukan itu
Mungkin aku mencintai suasana hujan kala itu
Bahkan aku mungkin tidak ingin hujan bergegas reda
Tapi aku lupa,
Masih ada Dzat yang mampu membolak-balikkan hati, dan suasana
Saat ini apa yang bisa ku lakukan?
Memperhatikan kamu yang sedang berlarian ke mobil bersama seseorangmu?
Ini menyakitkan, mana mungkin kamu secepat itu melupakan semuanya?
Dan sedetik kemudian air hujan sudah bercampur dengan air mataku
Selucu itu kah hidup?
"Masa lalu itu kayak kopi item. Kenapa? Soalnya ya, kamu tu nunggu ampasnya tu turun lama kan? Kadang malah sampe kamu bosen. Eh, giliran udah ngendap semua, tau-tau ada yang ngudak lagi, dan enggak sengaja kamu minum, PAIT!" - Ayu Ramadhanti
Hujan kembali turun dan aku kembali menikmatinya
Aku tidak pernah mencintai hujan, hanya sekedar menikmati
Hujan datang dan pergi, aku enggan seperti itu
Bahkan hujan entah di mana ketika semua orang membutuhkannya
Aku menikmati hujan dengan secangkir kopi hitam panas
Aku tau, mereka selalu bilang, kopi tidak baik
Tapi selalukah semua yang tidak baik akan berarti menjadi terburuk?
Ku pikir, tidak
Kopi memang tidak baik, tapi setidaknya dia tidak berpura-pura menjadi baik
Kopi boleh saja pait, tapi setidaknya yang akan selalu menemani sendiriku
Kopi tidak seperti hot choco, yang dulu selalu menjadi favoritku
Hot choco manis, tapi dia bisa saja membunuhmu dengan diabetes, bukan?
Seduhan terakhir sudah menggalir ditenggorokan
Tiba-tiba seekor merpati putih datang menghampiri
Mungkin saja dia hanya sedang mampir
Atau malah dia ingin menemaniku?
Sayang dia tidak bisa menjawab
Nikmati saja kedatangan merpati ini
Jaga saja dulu
Sebelum akhirnya dia akan pergi lagi
Dingin ya? Ambil saja selimutmu, atau perlu ku peluk?
Aku tidak pernah mencintai hujan, hanya sekedar menikmati
Hujan datang dan pergi, aku enggan seperti itu
Bahkan hujan entah di mana ketika semua orang membutuhkannya
Aku menikmati hujan dengan secangkir kopi hitam panas
Aku tau, mereka selalu bilang, kopi tidak baik
Tapi selalukah semua yang tidak baik akan berarti menjadi terburuk?
Ku pikir, tidak
Kopi memang tidak baik, tapi setidaknya dia tidak berpura-pura menjadi baik
Kopi boleh saja pait, tapi setidaknya yang akan selalu menemani sendiriku
Kopi tidak seperti hot choco, yang dulu selalu menjadi favoritku
Hot choco manis, tapi dia bisa saja membunuhmu dengan diabetes, bukan?
Seduhan terakhir sudah menggalir ditenggorokan
Tiba-tiba seekor merpati putih datang menghampiri
Mungkin saja dia hanya sedang mampir
Atau malah dia ingin menemaniku?
Sayang dia tidak bisa menjawab
Nikmati saja kedatangan merpati ini
Jaga saja dulu
Sebelum akhirnya dia akan pergi lagi
Dingin ya? Ambil saja selimutmu, atau perlu ku peluk?
Aku bukan lagi sosok pecinta bintang seperti apa yang aku kagumkan sebelumnya
Aku hanyalah seorang pecinta bulan purnama, entah apa sebabnya, namun bukankah cinta tidak pernah mengenal pertanyaan mengapa?
Aku hanya menjalani, tanpa pernah mengerti ujung dari semua ini.
Kadang ada yang hilang ketika mentari mulai merekah
Entah sejak kapan aku membenci mentari
Kuning, bercahaya, bahkan semua orang tersenyum ketika mentari terbit, sayangnya aku tidak
Aku selalu menanti bulan, dengan setia
Walau kadang aku lelah, terlelap, kemudian tersadar ada sesuatu yang perlu ku perjuangkan untuk sang purnama
Sedangkan kamu?
Kamu mencintai bintang dengan caramu
Kamu selalu tersenyum ketika melihat titik bersinar di langit hitam
Bahkan sudah menjadi kebiasaanmu menghabiskan malammu hanya untuk menatap peri kecil bersinar itu
Entah apa yang kamu pikirkan tentang bintang
Sulit untuk ditebak
Katamu, bintang itu cantik dan baik
Ya, dibuktikan dengan kamu yang selalu bercerita kepada ribuan kunang-kunang langit ketika kamu lelah dengan semua hal
Namun kamu memahami ada sesuatu yang perlu kamu perjuangankan selain cerita-ceritamu kepada bintang tersebut bukan?
Kita berbeda, kita tak pernah sama
Kamu yang mengagumi bintang, aku yang mencintai bulan
Kamu yang memilih untuk bercerita lewat tatapan, aku yang memilih bercerita lewat ungkapan
Kamu yang selalu mendatangi bintang ketika sedih, aku yang selalu setia menunggu purnama
Namun, kita tetap bisa bersatu bukan?
Kita masih ada di bawah langit malam yang sama
Kita masih bisa menatap kecintaan kita bersama, sambil menikmati susu hangat mungkin?
Aku hanyalah seorang pecinta bulan purnama, entah apa sebabnya, namun bukankah cinta tidak pernah mengenal pertanyaan mengapa?
Aku hanya menjalani, tanpa pernah mengerti ujung dari semua ini.
Kadang ada yang hilang ketika mentari mulai merekah
Entah sejak kapan aku membenci mentari
Kuning, bercahaya, bahkan semua orang tersenyum ketika mentari terbit, sayangnya aku tidak
Aku selalu menanti bulan, dengan setia
Walau kadang aku lelah, terlelap, kemudian tersadar ada sesuatu yang perlu ku perjuangkan untuk sang purnama
Sedangkan kamu?
Kamu mencintai bintang dengan caramu
Kamu selalu tersenyum ketika melihat titik bersinar di langit hitam
Bahkan sudah menjadi kebiasaanmu menghabiskan malammu hanya untuk menatap peri kecil bersinar itu
Entah apa yang kamu pikirkan tentang bintang
Sulit untuk ditebak
Katamu, bintang itu cantik dan baik
Ya, dibuktikan dengan kamu yang selalu bercerita kepada ribuan kunang-kunang langit ketika kamu lelah dengan semua hal
Namun kamu memahami ada sesuatu yang perlu kamu perjuangankan selain cerita-ceritamu kepada bintang tersebut bukan?
Kita berbeda, kita tak pernah sama
Kamu yang mengagumi bintang, aku yang mencintai bulan
Kamu yang memilih untuk bercerita lewat tatapan, aku yang memilih bercerita lewat ungkapan
Kamu yang selalu mendatangi bintang ketika sedih, aku yang selalu setia menunggu purnama
Namun, kita tetap bisa bersatu bukan?
Kita masih ada di bawah langit malam yang sama
Kita masih bisa menatap kecintaan kita bersama, sambil menikmati susu hangat mungkin?
Kita pernah melangkah bersama, hanya untuk sekedar saling menggenggam
Kita pernah berbicara tentang impian, yang pernah kita coba untuk nyatakan
Kita pernah tertawa lepas, selepas merpati yang mengelilingi dunia tanpa lelah
Kita pernah ada ditempat paling menyedihkan, dan kita bisa melewatinya
Tapi, itu semua hanya "kita pernah...", bukan?
Kamu pergi entah kemana
Kamu lepas entah karena apa
Kamu hilang entah dimana
Mungkin salahku
Mungkin salah mereka
Atau memang maumu?
Lucu ya?
Kita pernah sedekat nadi, lalu sejauh mentari
Kita pernah saling mengenal sebelum saling membenci
Kita pernah tertawa bersama hingga akhirnya kita hanya menatap sinis
Sudahlah, semoga kamu bahagia
Biarkan saja aku disini, tak usah peduli
Biarkan saja aku yang memikirkanmu, bahagialah dengan pilihanmu
Biarkan saja aku menyimpan semuanya, berlarilah semaumu
Kita pernah berbicara tentang impian, yang pernah kita coba untuk nyatakan
Kita pernah tertawa lepas, selepas merpati yang mengelilingi dunia tanpa lelah
Kita pernah ada ditempat paling menyedihkan, dan kita bisa melewatinya
Tapi, itu semua hanya "kita pernah...", bukan?
Kamu pergi entah kemana
Kamu lepas entah karena apa
Kamu hilang entah dimana
Mungkin salahku
Mungkin salah mereka
Atau memang maumu?
Lucu ya?
Kita pernah sedekat nadi, lalu sejauh mentari
Kita pernah saling mengenal sebelum saling membenci
Kita pernah tertawa bersama hingga akhirnya kita hanya menatap sinis
Sudahlah, semoga kamu bahagia
Biarkan saja aku disini, tak usah peduli
Biarkan saja aku yang memikirkanmu, bahagialah dengan pilihanmu
Biarkan saja aku menyimpan semuanya, berlarilah semaumu
Jangan heran jika mendengar ledakan tawa
Dan maaf jika itu mengganggumu
Itu hanya ekspresi yang tidak pernah kamu mengerti dari diriku
Maaf jika tiba-tiba aku menangis
Cengeng!, kata mereka
Tapi sudahlah, ini aku, dan ekspresiku seperti ini
Lalu beberapa detik kemudian,
kamu akan mendengar suara menggelegar yang ceria
dan kamu akan bertanya, "hidupmu tak berbeban",
aku hanya akan tersenyum
Karena bagiku,
Hitam tetaplah hitam
Putih akan terus bersinar
Untuk apa meratapi hal yang memang bernoda?
Jika kita bisa menghapusnya perlahan dengan senyum?
Mata masih saja menatap pada layar hitam yang tak bergeming
Menunggu sapaan yang biasanya terlontar
Dan menunggu canda tawa tengah malam
Sudah dua hari ini semuanya hilang, entah
Yang jelas menyebalkan
Mana ada rindu menyenangkan?
Mana mungkin aku menyalahkan kamu karena hadirmu?
Mana bisa aku menyalahkan waktu karena mempertemukan kita?
Mana ada aku menyalahkan hati?
Seharusnya aku sadar, siapa aku dan siapa kamu
Seharusnya aku memahami, tentang status kita
Seharusnya aku mengerti, arti dari setiap percakapan kita
Sudah larut, tidurlah
Menunggu sapaan yang biasanya terlontar
Dan menunggu canda tawa tengah malam
Sudah dua hari ini semuanya hilang, entah
Yang jelas menyebalkan
Mana ada rindu menyenangkan?
Mana mungkin aku menyalahkan kamu karena hadirmu?
Mana bisa aku menyalahkan waktu karena mempertemukan kita?
Mana ada aku menyalahkan hati?
Seharusnya aku sadar, siapa aku dan siapa kamu
Seharusnya aku memahami, tentang status kita
Seharusnya aku mengerti, arti dari setiap percakapan kita
Sudah larut, tidurlah
It's 22:22 and I'm tired of getting hurt. Okay, let me tell you...
Awalnya,
Gunung es terlihat sangat menawan, gagah perkasa, dan putih sebagai penanda kesuciannya
Ia berdiri menantang semua orang, seperti ia tak pernah takut pada seorangpun
Ia dingin, tapi akan menjadi hangat jika tahu bagaimana cara mencari celah
Kenapa ia dingin?, tanya kebanyakan orang
Pikirkan saja, jika ia hangat seperti api, akan kah ia menjadi segagah ini? Tidak!
Namun,
Gunung es itu hancur, benar-benar hancur
Meleleh hanya karena satu orang
Orang itu tau dimana celah kehangatan si gunung es
Lalu mencoba melelehkan kegagahan gunung es
Gunung es ini sempat mengelak, menolak, bahkan mengusir
Tapi, apalah daya, usaha orang ini terlalu gencar
Bangsat memang,
Setelah berhasil melelehkan setengah gunung es, ia pergi
Bahkan ia tidak pernah berpikir apa akibat yang ia timbulkan
Ia tidak pernah berpikir tentang ratusan jiwa yang mati karena ulahnya
atau, Lautan yang meninggi karena lelehan es
Mati saja kau!, teriak kebanyakan orang
Apalah daya, semua sudah terjadi
Tak banyak yang bisa dilakukan, hanya bisa berharap, dan mencoba membangun gunukan es lagi
Its 1am, but my mind and my heart are in war.
"Its so complicated"
Hah! You have something that more important than him
"Ya, I know."
So, why you still here?
"Do you know how deep my love for him, right?"
Ya, I know. So?
"I love him, so much."
Even he never see you?
"He sees me."
Before you broke up with him, right?
"Yaaa"
But, look! How poor you are, now!
"Why? Why you say like that?"
HAHAHA! How can a love make you dumber? Look! Now, he found his new happiness with your friend
"So?"
You should find your own happiness! You are beautiful, you can find someone better than him.
"BUT, I LOVE HIM"
Then, die!
"Its so complicated"
Hah! You have something that more important than him
"Ya, I know."
So, why you still here?
"Do you know how deep my love for him, right?"
Ya, I know. So?
"I love him, so much."
Even he never see you?
"He sees me."
Before you broke up with him, right?
"Yaaa"
But, look! How poor you are, now!
"Why? Why you say like that?"
HAHAHA! How can a love make you dumber? Look! Now, he found his new happiness with your friend
"So?"
You should find your own happiness! You are beautiful, you can find someone better than him.
"BUT, I LOVE HIM"
Then, die!
Selamat datang lagi hujan,
Kamu semakin deras saja,
Rindukah?
Terimakasih sudah berkunjung,
Terimakasih untuk apa?
tanyamu.
Terimakasih hujan,
Sudah menunjukkan indahnya matahari,
Tapi kamu menunjukkan perpaduan yang lebih indah,
Matahari dan pelangi.
-aar
-aar